Tempat : Sungai Kapuas
Hari/Tanggal : 7 Juli 2011
Anggota : Tam Jamal, Pak Jayadi, Sarpini, Elita, Devi, Adha
Waktu : Sore - Malam
Halo teman-teman… Namaku Sarpini. Saya sengaja menyunting sedikit tulisan disini untuk dapat berbagi dengan kawan-kawan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) terutama anggota kelompok tiga dan tentunya untuk warga dusun Pulau Sayat, yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, saya akan berbagi cerita sewaktu kami berada di dusun Pulau Sayat. Cerita tentang kegiatan saya dan teman-teman, yaitu MUKAT.
Iya MUKAT…. Tau kan kawan-kawan apa itu mukat?? Itu lho sebutan untuk orang yang mencari Ikan. Sekarang sudah tau kan…???
Hari kamis, tanggal 7 Bulan 7 tahun 2007, eh salah yang benar tahun 2011 rupanya. Hee… betungak… Sore itu saya dan pak Tam Jamal berencana buat mencari sayur di kebunnya. Karena tujuannya hanya mencari sayur, jadi teman-teman yang cewek juga ada yang ingin ikut. Kebetulan yang ikut sore itu ada Elita, Devy dan Adha alias Mak Jah. Heee… (Ingat dengan film Pondok Buruk). Karena ada cewek yang ikut, jadi pak Tam berencana membawa pukat (sejenis jaring untuk menangkap ikan)
Pukul 15.30 kami berangkat dan sampai di kebun tam Jamal di seberang sungai Kapuas. Kami langsung mencari sayur mayur, seperti daun ubi, tomat, cabe rawit, kangkung, bahkan buah ubi pak Tam juga kami bantai. Setelah selesai mencari sayur, kami melanjutkan untuk mencari ikan menggunakan pukat yang telah kami persiapkan sebelumnya.
Pada ronde pertama, saya yang duluan membawa pukat. Setelah pukat dihanyutkan dan sambil menunggu ikan kena, mereka cewek dan tam Jamal kemudian menyusul saya yang sedang berjuang mencari ikan. Setelah pukat diangkat, ikan yang didapatpun sangat sedikit. Yach bisa bilang tidak ada, soalnya yang menempuh jaring hanya dua ekor magang. Jadi kami tetap memutuskan untuk tetap mukat.
Tidak terasa hari sudah sore, mungkin sekitar jam 17.00 tam Jamal mengatakan kepada kami apakah ingin pulang atau tetap lanjut mukat sampai malam?? Setelah kawan-kawan cewek sepakat, mereka juga ingin mukat sampai malam, walaupun waktu itu satu alat peneranganpun tidak ada yang kami bawa.
Sore itu, tepatnya di karangan di hilir kampong, kami bertemu dengan pak Jay, yang kebetulan adalah bapak angkat saya. Jadi beliau juga ikut gabung mukat bersama dengan kami. Walaupun malam itu tidak ada satupun alat penerangan, kami tetap nekat untuk tetap mukat. Tapi Alhamdulillah, malam itu bulan cukup terang. Jadi ikan yang didapat juga kelihatan.
Banyak kejadian aneh pada malam itu, secara tidak sengaja saya melihat ke langit seolah ada sinar cahaya yang sangat terang. Sekilas seperti ada tabrakan di atas sana. Kejadian itu berulang sampai dua kali. Rupanya bukan hanya saya saja yang melihat hal aneh tersebut, rupanya Elita juga melihat hal yang sama. Lama kami memandang ke langit, keheranan dan mengamati, benda apakah gerangan yang telah memancarkan sinar cahanya? Rupanya Adha dan Devy tidak menyadari benda itu. Hanya kami berdua magang meh yang tahu. Kamek pun nisek nyarok ugak dengan benda itu.
Oh ya, tidak lama setelah azan maghrib, kami melihat benda bercahaya redup terbang tepat di atas kami. Mereka mengira benda itu adalah meteor yang jatuh. Ditegurkan oleh sidak, “Iii… Ade meteor jatuh…” sekilas saya memandang ke atas dan menyuruh mereka diam sejenak, dan mengatakan “Benda tu bukan meteor, ibarat kata kamek tu Pulong, yach sejenis tenun gitulah”. rupanya benda itu memanglah Tenun. “kok masih ada yach benda semacam itu di zaman yang sudah modern gini” kata Lita. “Yach namanya juga di Kampung Bu” Jawab ku santai.
Sebenarnya kami lupa bahwa malam itu adalah malam jumat. Kami juga baru ingat kalau malam jumat itu kami ada pengajian di rumah pak Panji dan rumah Nenek, mertuanya pak Kades. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 20.00 lewat, kalau mau pulang sekarang juga tidak akan sempat untuk menghadiri acara yasinan itu.
Tapi Alhamdulillah malam itu kami lumayan banyak dapat ikan. Ya…. Dihitung-hitung cukuplah buat kami makan orang sepuluh. Hehehee…
Pukul 21.00 kami pulang ke pulang. Rupanya sudah ada yang menegur kami dari tadi, yaitu kampung tengah yang susah sekali diajak komproni. Rupanya semua teman-teman sudah pada kelaparan. Hahaa… naseb lah… bahkan pak Tam Jamal sendiri juga sudah kelaparan. Hheee…
Sampai di kampung kami langsung pulang ke posko. Buka panci, buka tutup saji, tidak ada sayur atau lauk yang tersisa. Untung juga nasi sudah di masak dari awal. Ya terpaksa deh masak sayur lagi. Tempuyak dan Lalap daun ubi menjadi santapan kami malam itu. Makanan favorit nech kataku dalam hati. Karena kebetulan malam itu tam Jamal juga ingin makan di posko. Jadi kami berlima makan sama-sama. Setelah makan selesai, kami berempat kemudian mandi di sungai Kapuas. Hilang sudah letih kalau dibawa mandi. Biarpun mandinya malam-malam, tapi asyik juga tuch, takut juga hilang karena kami banyak betungak. Heeee… sekian dulu yach cerita tentang mukat ne, walaupun tidak membawa bekal apa-apa, tapi nanti insya Allah cerita yang lainnya akan menyusul. Sekian…. Bye… Bye… di tunggu ya tulisan yang lain. Tq…
Hari/Tanggal : 7 Juli 2011
Anggota : Tam Jamal, Pak Jayadi, Sarpini, Elita, Devi, Adha
Waktu : Sore - Malam
Halo teman-teman… Namaku Sarpini. Saya sengaja menyunting sedikit tulisan disini untuk dapat berbagi dengan kawan-kawan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) terutama anggota kelompok tiga dan tentunya untuk warga dusun Pulau Sayat, yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, saya akan berbagi cerita sewaktu kami berada di dusun Pulau Sayat. Cerita tentang kegiatan saya dan teman-teman, yaitu MUKAT.
Iya MUKAT…. Tau kan kawan-kawan apa itu mukat?? Itu lho sebutan untuk orang yang mencari Ikan. Sekarang sudah tau kan…???
Hari kamis, tanggal 7 Bulan 7 tahun 2007, eh salah yang benar tahun 2011 rupanya. Hee… betungak… Sore itu saya dan pak Tam Jamal berencana buat mencari sayur di kebunnya. Karena tujuannya hanya mencari sayur, jadi teman-teman yang cewek juga ada yang ingin ikut. Kebetulan yang ikut sore itu ada Elita, Devy dan Adha alias Mak Jah. Heee… (Ingat dengan film Pondok Buruk). Karena ada cewek yang ikut, jadi pak Tam berencana membawa pukat (sejenis jaring untuk menangkap ikan)
Pukul 15.30 kami berangkat dan sampai di kebun tam Jamal di seberang sungai Kapuas. Kami langsung mencari sayur mayur, seperti daun ubi, tomat, cabe rawit, kangkung, bahkan buah ubi pak Tam juga kami bantai. Setelah selesai mencari sayur, kami melanjutkan untuk mencari ikan menggunakan pukat yang telah kami persiapkan sebelumnya.
Pada ronde pertama, saya yang duluan membawa pukat. Setelah pukat dihanyutkan dan sambil menunggu ikan kena, mereka cewek dan tam Jamal kemudian menyusul saya yang sedang berjuang mencari ikan. Setelah pukat diangkat, ikan yang didapatpun sangat sedikit. Yach bisa bilang tidak ada, soalnya yang menempuh jaring hanya dua ekor magang. Jadi kami tetap memutuskan untuk tetap mukat.
Tidak terasa hari sudah sore, mungkin sekitar jam 17.00 tam Jamal mengatakan kepada kami apakah ingin pulang atau tetap lanjut mukat sampai malam?? Setelah kawan-kawan cewek sepakat, mereka juga ingin mukat sampai malam, walaupun waktu itu satu alat peneranganpun tidak ada yang kami bawa.
Sore itu, tepatnya di karangan di hilir kampong, kami bertemu dengan pak Jay, yang kebetulan adalah bapak angkat saya. Jadi beliau juga ikut gabung mukat bersama dengan kami. Walaupun malam itu tidak ada satupun alat penerangan, kami tetap nekat untuk tetap mukat. Tapi Alhamdulillah, malam itu bulan cukup terang. Jadi ikan yang didapat juga kelihatan.
Banyak kejadian aneh pada malam itu, secara tidak sengaja saya melihat ke langit seolah ada sinar cahaya yang sangat terang. Sekilas seperti ada tabrakan di atas sana. Kejadian itu berulang sampai dua kali. Rupanya bukan hanya saya saja yang melihat hal aneh tersebut, rupanya Elita juga melihat hal yang sama. Lama kami memandang ke langit, keheranan dan mengamati, benda apakah gerangan yang telah memancarkan sinar cahanya? Rupanya Adha dan Devy tidak menyadari benda itu. Hanya kami berdua magang meh yang tahu. Kamek pun nisek nyarok ugak dengan benda itu.
Oh ya, tidak lama setelah azan maghrib, kami melihat benda bercahaya redup terbang tepat di atas kami. Mereka mengira benda itu adalah meteor yang jatuh. Ditegurkan oleh sidak, “Iii… Ade meteor jatuh…” sekilas saya memandang ke atas dan menyuruh mereka diam sejenak, dan mengatakan “Benda tu bukan meteor, ibarat kata kamek tu Pulong, yach sejenis tenun gitulah”. rupanya benda itu memanglah Tenun. “kok masih ada yach benda semacam itu di zaman yang sudah modern gini” kata Lita. “Yach namanya juga di Kampung Bu” Jawab ku santai.
Sebenarnya kami lupa bahwa malam itu adalah malam jumat. Kami juga baru ingat kalau malam jumat itu kami ada pengajian di rumah pak Panji dan rumah Nenek, mertuanya pak Kades. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 20.00 lewat, kalau mau pulang sekarang juga tidak akan sempat untuk menghadiri acara yasinan itu.
Tapi Alhamdulillah malam itu kami lumayan banyak dapat ikan. Ya…. Dihitung-hitung cukuplah buat kami makan orang sepuluh. Hehehee…
Pukul 21.00 kami pulang ke pulang. Rupanya sudah ada yang menegur kami dari tadi, yaitu kampung tengah yang susah sekali diajak komproni. Rupanya semua teman-teman sudah pada kelaparan. Hahaa… naseb lah… bahkan pak Tam Jamal sendiri juga sudah kelaparan. Hheee…
Sampai di kampung kami langsung pulang ke posko. Buka panci, buka tutup saji, tidak ada sayur atau lauk yang tersisa. Untung juga nasi sudah di masak dari awal. Ya terpaksa deh masak sayur lagi. Tempuyak dan Lalap daun ubi menjadi santapan kami malam itu. Makanan favorit nech kataku dalam hati. Karena kebetulan malam itu tam Jamal juga ingin makan di posko. Jadi kami berlima makan sama-sama. Setelah makan selesai, kami berempat kemudian mandi di sungai Kapuas. Hilang sudah letih kalau dibawa mandi. Biarpun mandinya malam-malam, tapi asyik juga tuch, takut juga hilang karena kami banyak betungak. Heeee… sekian dulu yach cerita tentang mukat ne, walaupun tidak membawa bekal apa-apa, tapi nanti insya Allah cerita yang lainnya akan menyusul. Sekian…. Bye… Bye… di tunggu ya tulisan yang lain. Tq…
0 komentar:
Posting Komentar